Minggu, 29 Mei 2011

RGB or CMYK Color

Posted by Henry Saputra Minggu, Mei 29, 2011, under | No comments

RGB merupakan singkatan dari Red, Green, Blue, dan apabila ketiga warna tersebut dikombinasikan, terciptalah warna putih. RGB menyandang status sebagai ‘additive color’, atau bahasa kerennya ‘warna pencahayaan’.  Warna RGB merupakan prinsip warna yang digunakan oleh media elektronik seperti televisi, monitor komputer, dan juga scanner. Oleh karena itu, warna yang ditampilkan RGB selalu terang dan menyenangkan, karena memang di setting untuk display monitor, bukan cetak, sehingga lebih leluasa dalam bermain warna. Tapi bukan berarti RGB bebas masalah lho.Tampilan warna RGB akan selalu terikat dengan kapasitas/kemampuan grafis computer yang menyandangnya. Jadi apabila komputer yang kita pakai mempunyai graphic card yang bagus serta monitor LCD, maka tampilan warna RGBnya akan jauh lebih bagus dibanding monitor tabung dengan graphic card yang biasa-biasa saja.
 
 
Cyan, Magenta, Yellow, Black merupakan kepanjangan dari CMYK (K dari CMYK diambil dari BlacK, soalnya kalau Black-nya dipakein simbol B, bakal ranchu antara Blue dan Black – sekedar info). Berbeda dengan RGB yang apabila digabungkan akan menjadi warna putih (di monitor), maka apabila Cyan, Magenta, dan Yellow digabungkan dan dicetak ke atas kertas putih, maka warna yang dihasilkan adalah hitam. Mengapa begitu? Karena warna CMY yang dicetak ke atas kertas putih akan menyerap cahaya yang ada pada kertas tersebut, sehingga mata kita tidak dapat menangkap pantulan cahaya. Oleh karena tidak adanya cahaya yang masuk ke dalam lensa mata, maka warna yang kita lihat menjadi hitam. Lalu apa guna warna hitam dalam CMYK kalau warna CMY saja bisa memproduksi warna hitam? Hehehe… pada dasarnya memang begitu, namun kenyataannya pada media cetak terkadang banyak terdapat ketidaksempurnaan sehingga warna yang dihasilkan menjadi tidak murni. Warna yang seharusnya tercetak hitam akan menjadi warna coklat gelap (meskipun terlihat seperti hitam). Nah, oleh karena itulah, untuk mendapatkan warna hitam solid, ditambahkanlah warna Black. Warna ini merupakan ‘rumus pasti’ bagi dunia percetakan! Oleh karena itu CMYK juga disebut ‘substractive color’ atau ‘warna penintaan’ (karena salah satu medianya adalah tinta). Salah satu kelemahan CMYK adalah tidak maksimalnya warna yang dihasilkan, karena gamut warnanya lebih rendah dari RGB (dan memang warna CMYK lebih gelap dibandingkan warna RGB). Selain itu, dalam dunia percetakan, hasil warna CMYK juga sangat tergantung oleh media cetaknya (tipe kertas, jenis tinta, dsb). Jadi jangan kaget ya, meskipun filenya sama, tapi kalau satu dicetak di kertas HVS dan yang lainnya dicetak ke artpaper, maka kualitasnya juga akan berbeda.
 
 
“Lalu? Enaknya pakai yang mana dong?”

Wah, kalau itu ya sesuai keperluan saja. Kalau memang akan digunakan untuk web design atau mungkin digital printing, maka gunakanlah warna RGB. Dengan warna RGB, maka tampilan warna akan lebih kaya dan menarik. Namun apabila berhubungan dengan dunia percetakan, maka gunakanlah warna CMYK dan jangan sekali-sekali menggunakan warna RGB! Bisa fatal akibatnya :D . Mengapa bisa fatal? Karena mesin cetak menggunakan medium film, dan film sangat terbatas dalam mencerna warna, oleh karena itu pasti ada penurunan grade apabila warna RGB dipaksakan masuk film (perubahan warnanya bisa besar!). cuma memang kalau kita berhubungan dengan mass production, mau tidak mau kita memang harus menggunakan mesin cetak, karena lebih efisien dan hemat (uang & waktu :D ). Tapi kalau seandainya sudah buat FA (final artwork) untuk cetak tapi dalam color mode RGB, ya konversi saja dulu ke CMYK, tapi jangan kaget dengan perubahan warnanya ya. Jadi berhati-hatilah dengan color mode yang digunakan dalam sebuah desain. Check dengan hati-hati final artworknya agar tidak terjadi kesalahan.

0 komentar:

Share

Like

My Video